Pelumat Plastik




Saat ini limbah plastik murni dan atau campuran memicu berbagai konflik lingkungan daratan dan lautan karena sangat sulit hancur dan sulit terurai di alam. Beberapa metode antisipasi telah diaplikasikan seperti pemanfaatan ulang bahan plastik, penyortiran menjadi bahan pengganti, maupun daur ulang kembali bahan limbah yang tidak terpakai untuk hal lain yang lebih berguna.

Berkembangnya produk plastik di Indonesia telah menambah semakin meningkatnya polusi limbah dan pengaruh negatif bagi lingkungan. Jenis plastik yang banyak ditemui di pasar domestik Indonesia diantaranya; Polypropylene (PP), Polyethylene (PE), Polystyrene (PS), Polyvinyl Chloride (PVC), Acrylonitrile Butadiene Styrene (ABS), dan Polyethylene Terephtalate (PET).

Beberapa metode telah digunakan untuk memanfaatkan kembali limbah-limbah plastik yang terbuang. Kombinasi konsep fisika-kimia untuk memproduksi biji-biji plastik dengan cara penyortiran, pencacahan, penggilingan, dan pelumatan dengan bahan kimia sampai masuk ke proses pencetakan menggunakan alat press, terbukti telah berhasil menekan limbah plastik. Namun metode ini selain memerlukan biaya produksi mahal karena memerlukan mesin, operasional dan bahan kimia pendukung, juga menghasilkan kembali limbah sekunder asap, minyak, dan kotoran.

Mikroplastik terpapar dikonsumsi oleh berbagai-macam organisme laut, seperti organisme filter feeder, invertebrata, ikan, mamalia, dan burung. Selain berpotensi mengganggu rantai makanan juga menyebabkan kekenyangan palsu, stres patologis, kelainan reproduksi hingga mengganggu tingkat pertumbuhan hewan akuatik dan semua lapisan organisme terestrial daratan lainnya.

Beberapa riset dan penelitian inovatif lainnya telah tanpa sengaja diketahui karena melihat berbagai fenonema aneh yang terjadi di alam. Pendekatan terhadap cara dan kemampuan organisme biologis dalam pendegradasi plastik diketahui dapat menjadi solusi alternatif yang ramah lingkungan, dan juga tidak berbahaya bagi lingkungan karena bersifat organik. 

Spesies-spesies pendegradasi plastik alami diketahui seperti jamur Parengyodontium album, Tricoderma viride, Jamuur Aspergillus, ‘bakteri endofit’ pada tanaman Mangrove, Ideonella sakaiensis, Comamonas, Pseudoalteromonas, Bacillus dan banyak jenis organisme lainnya telah dikembangkan sebagai bioremediasi limbah cair berbagai industri maupun limbah sisa aktivitas pabrik.

By Rino Pratama Hadi



Nb;

Meskipun mikroplastik tahan terhadap degradasi dan terus berada di lingkungan, tetapi diketahui tetap dapat diurai oleh beberapa mikroba (Paco et al., 2017; Othman et al., 2021). Salah satu contohnya yaitu mikroorganisme yang oportunistik dan memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan hampir setiap lingkungan menunjukkan potensi untuk mengubah berbagai senyawa, termasuk polimer plastik (Nauendorf et al., 2016). Fitur adaptif ini membantu mikroba untuk melakukan metabolisme terhadap kehadiran polutan, meningkatkan degradasi dan berperan baik pada biotransformasi (Auta et al., 2017a; Devi et al., 2019).


Referensi dan artikel unik lainnya: 

JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 4, No.2, (2015) 2337-3520 (2301-928X Print)

JURNAL GENERASI KAMPUS VOLUME 10, NOMOR 2, SEP

TEMBER 2017

Comments

Popular posts from this blog

Mr. Caffein

Kratom (Purik) Mitragyna speciosa

BUNGUR