Kratom (Purik) Mitragyna speciosa

 

Kratom (Mitragyna speciosa) atau Purik (bahasa Kapuas Hulu) termasuk ke dalam keluarga tumbuhan Rubiaceae (kopi-kopian) telah dikenal sejak tahun 1990 an oleh masyarakat pribumi Kapuas Hulu, namun mulai di budidaya pada pertengahan tahun 2000 an karena memiliki nilai jual tinggi jika dibandingkan dengan tanaman karet. 

Bagian tumbuhan kratom yang memiliki nilai ekonomis berupa daun yang dijemur dan dihaluskan dalam bentuk olahan serbuk maupun pil. Bentuk utuh daun berbentuk oval atau bulat telur, berwarna hijau tua serta dapat tumbuh panjang mencapai 180 mm dan lebar 100 mm. Berat basah daun kratom mampu mencapai >1,7 gram per helai dan digunakan sebagai obat tradisional relaksasi, obat nyeri, menurunkan panas maupun mengurangi kadar gula darah (Veltri dan Grundmann 2019).

Hasil penelitian menunjukkan daun kratom memiliki 25 kandungan senyawa kimia dan yang paling dominan diantaranya mitraginin sebagai katalisator terhadap zat opium agar bekerja lebih efektif. Oleh karena itu, efek kratom pada manusia bergantung pada dosis yang di konsumsi sebagai stimulasi 'seperti kokain' pada pemakaian dosis kecil, sementara dosis besar menyebabkan efek obat penenang 'mirip morfin'.

Persebaran kratom di beberapa negara seperti Malaysia, Indonesia dan Thailand menjadikannya memiliki variasi karakter fitokimia dan farmakologi yang unik. Dalam varietas Thailand, konsentrasi total alkaloid dalam daun kering berkisar antara 0,5–1,5%, dan diketahui mitragynine adalah komponen yang paling melimpah (66% dari total alkaloid) sedangkan 7-hidroksimitragynine adalah konstituen minor (2% dari total kandungan alkaloid). 

Adapun varietas kratom Malaysia, mitragynine hadir pada konsentrasi yang lebih rendah (12% dari total alkaloid). Konsentrasi khas mitragynine dan 7-hydroxymitragynine pada daun kering atau produk kratom bubuk yang tersedia di Jepang masing-masing adalah 12–21 mg/g dan 0,11–0,39 mg/g; resin (getah) kratom mengandung 35,6–62,6 mg/g mitragynine dan 0,12–0,37 mg/g kandungan senyawa 7-hydroxymitragynine (Sandra. 2023).

Di balik kontroversinya, kratom menyimpan kandungan senyawa yang bermanfaat bagi umat manusia. Guru besar kimia Universitas Tanjungpura, Prof Dr Thamrin Usman DEA menyebut, senyawa Mitragynin, Paynentein, Speciociliatine dan Spyciogine pada kratom bersifat analgesik. Senyawa tersebut berfungsi mengobati sakit kepala atau pain killer alias penghilang nyeri. Zat-zat itu juga bersifat antitusif dan anastesis atau penghilang rasa saat operasi pembedahan serta juga berguna sebagai stimulan.

Beberapa senyawa lainnya seperti Senyawa 7-Hidroksimitragynin misalnya dapat disalahgunakan menjadi narkotika. Hanya saja, dengan penanganan tertentu, senyawa tersebut dapat dipisahkan dari Mitragynin. Dari pemisahan tersebut, akan didapatkan beberapa produk medis bernilai ekonomi tinggi. Dua di antaranya yaitu senyawa Mitragynin dan kelompoknya untuk penggunaan sebagai Analgesic, Anestesis, Stimulan, dan Pain Killer. 

Website IUCN resmi (mengacu pada serial nomor id.192376330) mengeluarkan pernyataan bahwa status konservasi mengenai Mitragyna speciosa memiliki sebaran yang sangat luas, populasi yang besar dan tidak mengalami ancaman krisis serta belum teridentifikasi adanya ancaman signifikan di masa mendatang. Pernyataan demikian sejalan dengan mudahnya tanaman jenis ini untuk tumbuh di berbagai landscape iklim di berbagai negara dan sebaran daerah aliran sungai Indonesia termasuk sungai di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Sungai Kapuas.

 By Rino Pratama Hadi


Artikel unik lainnya:

Sandra E, 2023. Divisi Bioprospeksi Dan Pemanfaatan Lestari Hidupan LiarDepartemen Konservasi Sumberdaya Hutan Dan Ekowisata. Fakultas Kehutanan Dan Lingkungan. Institut Pertanian Bogor.

Endah.dkk. 2024. Sosialisasi Mahasiswa Universitas Tanjungpura Terhadap Isu Kratom (Mitragyna Speciosa) Global.Universitsas Tanjungpura. Pontianak.

https://chemistry.untan.ac.id/kratom-tak-perlu-dilarang-jangan-jadi-harta-karun-yang-dibuang/

www.iucnredlist.com

Comments

Popular posts from this blog

Mr. Caffein

BUNGUR