Serangga dan Kepunahan


Serangga selain memiliki peran pada keseimbangan ekosistem juga berperan baik pada bioindikator lingkungan sehat dan ataupun tercemar. Seiring berjalannya waktu dengan keadaan bumi yang masiv akan perubahan iklim, pemanasan global, deforestasi hutan maupun penyalahgunaan lahan untuk ‘modernisasi’ perkotaan, menyebabkan bom waktu bagi kelestarian serangga untuk hidup.

Pembukaan lahan untuk keperluan pertanian yang tidak diimbangi dengan penanaman kembali (reboisasi) menyebabkan ketimpangan pada habitat bagi kelestarian serangga di alam. Penggunaan insektisida, pestisida, herbasida dan pupuk bagi tanaman pertanian akan mempengaruhi resistensi serangga sehingga sistem ekologi menjadi tidak normal terhadap hewan dan tumbuhan lainnya.

Profesor Damayanti dari IPB menerangkan bahwa serangga sangat rentan dipengaruhi oleh perubahan iklim di lingkungan. Adanya peningkatan suhu akibat perubahan iklim menyebabkan beberapa serangga justru bisa hidup didaerah tersebut. Tetapi pada saat yang sama ritme biologis serangga-serangga yang sudah beradaptasi dengan suhu rendah dan memerlukan musim dingin untuk berdiapuase (fase istirahat) menjadi terganggu dan harus kembali beradaptasi pada perubahan lingkungan ‘baru'.

Sejauh ini sebagian besar studi tentang dampak perubahan iklim pada keanekaragaman hayati dan serangga banyak berfokus pada skala waktu yang jangka panjang (yaitu, tahunan). Namun, dalam hal ini terkait pada pemanasan global disebut ilmuwan sebagai iklim ekstrim (Climate Extreem), seperti suhu (temperatur), kekeringan parah, dan peristiwa curah hujan lebat, serta peristiwa yang menyertainya seperti banjir dan kebakaran, yang terjadi dalam durasi yang relatif singkat beberapa hari atau minggu. Sehingga dalam hal ini, iklim ekstrim telah meningkat dalam frekuensi, durasi, dan intensitas selama dua dekade terakhir (Christidis et al., 2015 ; Mazdiyasni & AghaKouchak, 2015 ; Meehl & Tebaldi, 2004 ; Palmer, 2014 ).

Climate Extreem (CE) mendapatkan peningkatan perhatian atas dampaknya terhadap keanekaragaman hayati di semua aspek (Harris et al., 2018 ; Isbell et al., 2015 ; Reusch et al., 2005 ). Kekhawatiran utama adalah bahwa meningkatnya intensitas CE, seperti suhu ekstrim (Temperature Extreem) yang dialami selama gelombang panas, mendorong banyak spesies serangga mencapai atau melampaui batas adaptif mereka (Agosta et al., 2018 ; Soroye et al., 2020 ), memaparkan mereka pada kondisi yang mungkin jarang mereka alami dalam sejarah evolusi mereka.

Beberapa serangga yang telah punah telah diketahui, sebagai berikut:

1. Kupu-kupu Biru Xerces (Glaucopsyche xerces):

Kupu-kupu ini dulunya hidup di bukit pasir di wilayah teluk San Francisco, California. Namun, habitatnya hancur akibat pembangunan perkotaan, dan kupu-kupu ini punah. 

2. Kupu-kupu Fritillary Atossa (Speyeria adiaste atsaos):

Kupu-kupu ini banyak ditemukan di pegunungan California selatan. Namun, belum ada informasi lebih lanjut tentang penyebab punahnya. 

3. Serangga Meganisoptera:

Meganisoptera adalah ordo serangga yang terdiri dari serangga-serangga besar yang mirip capung dan hidup pada masa lalu. Meganeura monyi dan Meganeuropsis permiana adalah contoh serangga Meganisoptera yang sudah punah. 

4. Polystoechotes puncata:

Serangga purba ini ditemukan tanpa sengaja di dinding supermarket, menunjukkan bahwa penemuan serangga purba masih mungkin terjadi. 

5.Serangga jenis Earwig (Labidura herculeana) 

Di Indonesia sering disebut cocopet, telah punah beberapa dekade lalu karena pengaruh perubahan habitat bebatuan karena aktivitas industrial manusia di pulau St Helena (Pulau sebelah selatan samudra Atlantik. Kota Jametown).


 By Rino Pratama Hadi 


Sumber referensi: 

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/

https://mongabay.co.id/2014/11/22/hilang-selamanya-dan-serangga-ini-pun-punah-sudah/

https://www.ipb.ac.id/news/index/2025/05/peneliti-ipb-university-sebut-banyak-spesies-serangga-lebih-dulu-punah-sebelum-teridentifikasi/

Comments

Popular posts from this blog

Mr. Caffein

Kratom (Purik) Mitragyna speciosa

BUNGUR