Infantisida Dan Baby Blues
Menurut Hukum indonesia kasus infantisida ialah tindakan pembunuhan dengan sengaja yang dilakukan seorang ibu terhadap anaknya yang baru saja dilahirkan. Pada umumnya mereka melakukan hal tersebut dengan alasan takut diketahui orang lain bahwa ia telah melahirkan. Salah satu faktor yang memicu tindakan tersebut sehingga kasus ini cenderung meningkat adalah karena adanya kehadiran bayi akibat hubungan diluar pernikahan. Untuk menutupi perbuatannya, si ibu menjadi terdorong untuk membunuh bayinya.
Infantasida dalam arti lain merupakan kegiatan pembunuhan antar hewan karena konflik seksual maupun kawin. Burung infantasida diketahui membuang telurnya dan atau memangsa anaknya sendiri untuk bertahan hidup. Beberapa penelitian mengenai tingkah laku hewan infantasida juga terjadi pada singa, monyet, dan termasuk rotifera mikroskopis, serangga , ikan dan amfibi.
Manusia adalah makhluk beretika jika ditemukan memiliki sifat infatisida, maka dari itu ada yang keliru terhadap psikologis manusia itu sendiri. Kemunduran adab, tingkah laku, penyimpangan dan faktor-faktor pemicu kecacatan ber ‘sosialisasi’ ini menyebabkan manusia memiliki sikap abnormal dan aneh dari biasanya.
Studi ilmiah menunjukkan bahwa terjadinya fenomena infatisida dikarenakan seleksi alam terkait persediaan sumber pakan dan kawin (bagi hewan) maupun gangguan/penyimpangan mental (bagi manusia). Beberapa kejadian seperti Baby Blues 85% pada pasca ibu hamil dapat memicu peristiwa infatisida.
Baby Blues mengacu pada kondisi pasca melahirkan yang tejadi pada ibu hamil dengan gejala seperti perubahan suasana hati, sensitif (mudah tersinggung), hilangnya selera makan, kesulitan tidur/berkonsentrasi dan sering menangis. Gejala baby blues sangat bervariasi antara individu dan dari satu kehamilan ke kehamilan berikutnya.
Baby blues menurut www.primaryhospital.com bukanlah penyakit melainkan kondisi psikologis ibu yang berkembang sesaat setelah melahirkan. Hingga kini para pakar belum bisa memastikan apa penyebab munculnya kondisi tersebut dan kenapa tidak semua ibu mengalaminya. Diduga ada banyak faktor yang menjadi pemicunya, termasuk perubahan hormon, stres yang dialami saat merawat bayi yang baru lahir, dan kurang tidur pada masa-masa setelah melahirkan.
By Rino Pratama Hadi
Sumber referensi:
www.primaryhospital.com
.jpeg)
Comments
Post a Comment