Fosil Lensa Mata Laba-laba
Waktu yang diperlukan untuk mencapai 110 tahun cukup lama. Bagi ukuran makhluk hidup kecil setara kura-kura, proses pengawetan cangkang mungkin dapat dilakukan dan cangkang ini mampu bertahan dalam kurun waktu yang lama. Namun hal lain yang tak terduga terjadi pada tahun 2019 lalu di Korea Selatan.
Fosil laba-laba Lagnomegopudae berumur 110 juta tahun dengan mata bersinar dalam kegelapan terperangkap diserpihan batu berhasil ditemukan. Laba-laba yang ditemukan ini dilindungi bintik-bintik aneh dan menunjukkan warna pantulan hijau menyerupai bulan sabit terletak diantara kepala spesimen (yang diketahui adalah lensa mata laba-laba primitif). Hasil scanning ini juga memberikan pandangan kontras yang berbeda dibandingkan batu sebelah lainnya pada proses scanning lanjutan.
Lagonomegopidae adalah famili laba-laba yang telah punah yang diketahui dari periode Cretaceous . Anggota famili ini dibedakan oleh sepasang mata besar, yang terletak di sisi anterolateral karapas, sedangkan mata lainnya berukuran kecil.
Umumnya mata laba-laba modern terdiri dari mata lensa tunggal dan majemuk dengan struktural dan fungsi unik untuk berburu dan melompat. Mata manusia dapat melihat benda jauh dan dekat karena daya akomodasi pupil mata mencembung dan mencekung. Adapun golongan laba-laba tertentu dengan mata berlensa tunggal berstruktur tapetum, menjadikannya termasuk hewan nocturnal dan pemburu yang baik di malam hari.
Struktur tapetum berfungsi merefleksi cahaya yang masuk dan memantulkannya kembali ke retina sehingga tampak bersinar jika dilihat mata manusia saat malam. Tapetum lucidum adalah lapisan sel-sel penyusun yang reflektik dibelakang retina mata, memungkinkan polarisasi dan spektrum warna yang masuk dapat di ekstraksi dengan baik pada proses penglihatan mode gelap (malam).
Penemuan pada fosil ini memberikan rekam jejak ilmiah baru dan berpeluang untuk di telusuri lebih lanjut. Berbagai landscape geograpis lain mungkin saja memberikan informasi ilmiah yang berguna terhadap kemajuan informasi dan teknologi nantinya. Kelelawar dengan indera telinga yang super sensitif terhadap gelombang suara, nyamuk atau bakteri dengan vektor penyakit yang dibawanya, atau lebah dengan kemampuan polinatornya, yangmana jika ditelusuri secara ekologi tingkah laku dapat memberikan informasi terbaru untuk berbagai keperluan dan kemajuan.
By Rino Pratama Hadi
Artikel unik lainnya ;
https://www.mongabay.co.id/2019/04/25/sudah-mati-110-juta-tahun-mata-lala-laba-ini-masih-bersinar/
https://nationalgeographic.grid.id/read/132892402/laba-laba-purba-terperangkap-dalam-resin-berusia-99-juta-tahun?page=all
https://royalsocietypublishing.org/doi/10.1098/rspb.2021.1279


Comments
Post a Comment